Simulasi Sidang BPUPKI I

Simulasi merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas dengan tujuan membuat peserta didik aktif dan menambah pengalaman belajar dengan cara berperan seolah mengalami langsung suatu peristiwa. Peserta didik dituntut untuk dapat memerankan suatu tokoh dalam peristiwa dan dapat melaksanakan dengan penuh hidmat sehingga nilai pembelajaran yang ingin disampaikan tercapai. Berikut ini disajikan naskah simulasi sidang BPUPKI pertama yang pernah penulis laksanakan di kelas dengan berbagai improvisasi.


A. Pemeran tokoh-tokoh dalam sidang BPUPKI
• Ketua dan Wakil
1. Dr. Radjiman Widyodiningrat (Ketua) :
2. Ichibangase Yosio (Wakil dari Jepang) :
3. Dr. Soeroso (Wakil dari Indonesia) :
• Anggota
1. Ir. Soekarno (pengusul dasar negara) :
2. Muh. Yamin (pengusul dasar negara) :
3. Dr. Soepomo (pengusul dasar negara) :
4. Anggota-anggota BPUPKI


B. Naskah Simulasi Sidang BPUPKI Pertama
Prolog
Pada akhir tahun 1944, Jepang terdesak oleh sekutu. Karena merasa keberadaannya terancam, maka Jepang memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia. Sebagai tindak lanjut janji tersebut, maka dibentuklah BPUPKI (Dokuritsu Junbi Coosakai) pada tanggal 1 Maret 1945 oleh Letnan Jenderal Kumakhichi Harada yang bertujuan untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang berkaitan tentang pembentukan Negara Indonesia Merdeka. Dr. Radjiman Widyodiningrat dilantik sebagai ketua dan sebagai wakilnya adalah Ichibangase Yosio (Jepang) dan Soeroso (Indonesia). BPUPKI pun mengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 dengan agenda merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.
Sidang pertama bertempat di gedung Chuo Sangi In (Gedung Pancasila) yang di hadiri oleh ketua dan wakil serta anggota BPUPKI yang berjumlah 67 orang.
Scrip Simulasi
Radjiman, Ichibangase, Soeroso beserta para anggota duduk di tempat sidang yang telah tersedia.
Radjiman pun selaku ketua membuka sidang BPUPKI.
Dr. Radjiman Widyodiningrat: “Assalamualaikum Wr. Wb. Saudara-saudara sekalian terima kasih sudah hadir di tempat ini. Pertama saya selaku ketua akan memimpin jalannya sidang ini, di samping saya adalah seorang wakil dari Jepang dan tentu saja seorang lagi adalah seorang wakil dari Indonesia. Saudarasaudara sekalian, kita berkumpul di gedung ini dalam rangka merumuskan sebuah landasan untuk mengokohkan negara yang akan kita bangun bersama. Untuk itu, marilah kita buka sidang pertama ini dengan agenda membahas rumusan dasar negara (mengetuk palu 3 kali).
Soeroso : Selanjutnya silahkan saudara sekalian yang ingin menyumbangkan ide dan gagasannya dalam perumusan dasar negara ini. Saya harap saudara-saudara sekalian ikut berpartisipasi menyampaikan gagasan untuk membangun negara ini".
Mr. Muhammad Yamin (berdiri di podium peserta sidang): “Saudara-saudara sekalian saya ucapkan terima kasih telah memberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato singkat ini. Saya ingin menyampaikan gagasan saya tentang dasar negara. Adapun rumusan dasar negara yang saya usulkan yaitu:
1. Peri kebangsaan,
2. Peri kemanusiaan,
3. Peri ketuhanan,
4. Peri kerakyatan,
5. Kesejahteraan rakyat.
Mengapa saya mengatakan seperti ini? Itu karena pondasi dari dasar negara adalah bangsa, di mana bangsa kita ini peduli kepada sesama yang mencerminkan sikap kemanusiaan, sikap bangsa kita pula yang memegang teguh toleransi dalam beragama yang hal ini merupakan pencerminan dalam peri ketuhanan, dan juga rakyat kita ini merupakan rakyat yang suka kebersamaan sehingga hal ini dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat. Itulah usulan dari saya, mohon dipertimbangkan. Terima kasih” (Muh. Yamin meninggalkan podium).
Soeroso: “Selanjutnya, silahkan kepada anggota yang lainnya untuk menyampaikan gagasannya”
Mr. Soepomo (berdiri di podium) : “Terima kasih kepada ketua beserta wakil yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menyampaikan pandangan saya tentang dasar negara. Adapun rumusan yang saya usulkan diantaranya:
1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan batin
4. Musyawarah
5. Keadilan rakyat
Demikian gagasan yang saya sampaikan, mohon untuk dipertimbangkan. Terima kasih” (meninggalkan podium).
Soeroso: “Silahkan anggota lain untuk menyampaikan gagasan tentag dasar negara.”
Ir. Soekarno (berdiri di podium): “Saudara-saudara sekalian, setelah memikirkan ini semalaman. Saya berpendapat bahwa dasar negara kita harus berdasarkan kepada:
1. Kebangsaan Indonesia,
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan,
3. Mufakat atau demokrasi,
4. Kesejahteraan sosial dan
5. Ketuhanan yang berkebudayaan.
"...... Saudara-saudara! Dasar-dasar negara telah saya usulkan. Usulannya ada lima. Saya memberi usul untuk memberi nama kelima dasar negara tersebut adalah Panca Darma. Namun, nama Panca Darma ternyata tidak tepat di sini karena dharma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar. Setelah mendapat saran dan petunjuk dari seorang teman kita ahli bahasa, akhirnya saya memberikan nama kelima dasar negara ini yaitu Pancasila. Panca artinya lima dan Sila artinya asas atau dasar. Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi”.
“Barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan yang lima itu! Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja disebut trisila (socio-nationalisme, socio-democratie, dan ketuhanan) dan jika saya peras lagi menjadi satu maka dinamakan socio-nationalisme.
“Apakah saudara sekalian setuju dengan usulan saya?” Silahkan kemukakan pendapat anda. Terima kasih itulah rumusan menurut saya”. (Soekarno meninggalkan podium).
Soeroso: “Bagaimana Pak Ketua? Apakah usulan nama Pancasila atau trisila bisa diterima?
Radjiman: baiklah, silahkan kepada para hadirin anggota sidang untuk menyampaikan pendapat tentang usulan nama Pancasila yang disampaikan oleh Pak Ir. Soekarno.
Moh. Hatta (mengangkat tangan): “Saya selaku perwakilan dari para anggota sidang menyatakan setuju dengan nama Pancasila yang disampaikan oleh Pak Soekarno”.
Dr. Radjiman Widyodiningrat: “Baiklah ternyata para anggota sepakat untuk menyetujui pemberian nama dasar negara yang disampaikan oleh Pak Soekarno yaitu Pancasila. Saya rasa usulan nama yang diberikan Pak Soekarno ada benarnya. Hadirin ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh wakil dari Jepang, silahkan Mr. Ichibangase?”
Ichibangase: “Ohayogozaimasu, selamat siang hadirin..saya menyaksikan jalannya sidang dari awal hingga akhir dan menyimak beberapa usulan yang telah disampaikan oleh para anggota sidang. Saya hanya ingin menyampaikan setuju dengan hasil rumusan tersebut yang selanjutnya akan dipertegas lagi oleh ketua sidang. Hanya itu saja yang dapat saya katakan. Terima kasih...Arigatou gozaimasu” (sambil menundukkan kepala)
Radjiman: “Terima kasih kepada Mr Ichibangase yang telah menyampaikan sambutan sebagai perwakilan dari Jepang. Saudara-saudara sekalian, tadi kita sudah menyimak bagaimana pandangan tentang dasar negara yang telah disampaikan oleh Mr. Muh. Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Nama dasar negara pun sudah kita sepakati yaitu Pancasila. Namun, mengenai rumusan resmi dasar negara Pancasila tersebut akan dibahas lebih lanjut oleh Panitia Sembilan. Dengan demikian, sidang pertama BPUPKI dengan agenda rumusan dasar negara kita akhiri sampai disini”. (Mengetuk palu 3 kali).
Epilog
Sidang BPUPKI pertama (tanggal 29 Mei-1 Juni 1945) dengan agenda merumuskan dasar negara berakhir. Selanjutnya dasar negara tersebut dibahas dalam sidang yang dilakukan oleh Panitia Sembilan. Sebagai ketua dipilih Ir. Soekarno dan anggotanya terdiri dari Dr. Moh. Hatta, Mr. A. A. Maramis, Abdul Kahar Muzzakir, Ahmad Subardjo, Mr. Muh. Yamin, H. Agus Salim, KH. Wachid Hasyim, dan Abi Koesno Tjokrosuyoso.
Panitian Sembilan menghasilkan sebuah rumusan dasar negara yang terdapat dalam Pembukaan Piagam Jakarta (Jakarta Charter).

Cr. Imas Siti Chodijah S.Pd. 

Post a Comment